Traveling Stories

Kena Omel di Toilet di Cina Berulang Kali

Cina atau yang sering disebut Tiongkok di media Indonesia adalah negara dengan semilyar lebih penduduk. Negara ini juga memiliki warisan sejarah yang sangat WOW menurutku. Pengaruh budaya nya luas di seluruh dunia. Bagian mana sih di dunia ini yang tidak memiliki kuliner cita rasa cina alias Chinese Food?

Bulan November 2014 aku sengaja mengunnjungi Tiongkok selama 12 hari. Sudah 4 tahun yang lalu memang, dan baru sekarang kutulis. No, bukan pemalas. Hanya saja baru mau-nya sekarang. Beda loh. Balik soal traveling, aku menggunakan maskapai berbiaya murah (LCC) alias Low Cost Carrier Air Asia dari Kuala Lumpur. Dapat harga promo 3,2 juta PP seingatku. Eh, tak taunya makin kesini makin murah, dan 3,2 bukanlah harga yang pantas lagi dikatakan promo. Gak papa, masih tetap kudapat banyak hal menarik dari perjalanan ini.

Satu hal yang perlu menjadi concern kita jika ke Cina adalah toilet. Mirip sebagian besar negara di Eropa dan Amerikan, toilet di Tiongkok hanya menyediakan satu tombol saja yaitu FLUSH alias bilas. Tidak ada bidet alias semprotan untuk cebok. Tapi bedanya, yang membuat di Tiongkok lebih spesial adalah, sebagian besar toilet di lokasi publik juga tidak menyediakan tissue. Yes, benar. Tak ada bidet, dan tak ada tissue. Trus? Kreasi sendiri lah.

Sebelum berangkat aku sudah mempersiapkan dua perlengkapan mandatory piranti toilet yaitu tissue basah dan tissue kering. Karena sempat mendengar cerita teman yang sekolah di sana. Sesampai di bandara Beijing, aku merasakan kebelet pipis yang tak tertahankan dan langsung menuju toilet dan tanpa pikir panjang, menyerahkan barang bawaanku ke teman traveling yang sudah hampir molor (jam 3 pagi btw kami sampai). Aku terhenyak karena ingat tissue ku ada di tas yang lupa kubawa, namun sudah terlalu jauh untuk kembali. Daripada cepirit, aku teruskan saja langkahku ke dalam toilet dan untunglah toilet bandara menyediakan tissue. Tissue roll yang hanya satu gulung diletakkan di dekat pintu masuk bilik-bilik toilet. Jadi kusobek beberapa puluh cm lalu kumasuk ke satu bilik toilet.

Saat aku berada di toilet, melepas beban itu, terdengar suara wanita entah ngomel atau berbicara. Kadang memang susah dibedakan antara nada bicara reguler dan nada marah. Aku tak pedulikan. Kunikmati saja sesi ku di dalam bilik hingga selesai. Sekeluarnya aku dari dalam bilik, wanita yang kuduga merupakan sumber suara telah berkacak pinggang menungguku keluar bilik. Kaget sedikit dan dia mulai menunjuk-tunjuk mukaku sambil terus mengomel. Spontan ku adalah, “Sorry I don’t Understand” namun ia tetap terus mengomel ke arahku. Di dalam toilet hanya ada aku dan dia. Jadi sudah pasti dia tidak salah sasaran. Tapi kenapa?

Aku mulai merasa terganggu ni. Menyebalkan sekali diomelin dengan bahasa yang kita tak paham. Tapi untunglah aku tak paham. Jadi aku tetap melakukan kegiatanku, mencuci tangan, kucur sabun, bilas, balik badan dan kembali menggulung tisu roll ke tanganku. Agar kering. Ritual yang normal menurutku. Tapi tidak bagi wanita yang kuduga bekerja sebagai petugas kebersihan toilet bandara ini. Justru ia makin kencang ngomel ke arahku saat aku mengambil tissue. Aku jadi paham, mungkin baginya aku mengambil tissue terlalu banyak. Oke I got the point. Kutinggalkan dia tanpa minta maaf, aku gak tau cara minta maaf nya. Tapi setidaknya dari situ aku paham, jika mengambil tissue jangan terlalu banyak, atau ambil ketika gak ada petugas kebersihan.

Aku sudah belajar, tapi omelan serupa kudapatkan di 2 toilet lainnya. Satu omelan lain kudapat di toilet umum di sekitar Greatwall. Aku tidak mengambil tissue sebelum masuk bilik karena aku membawa tissue keringku sendiri. Namun spontan aku mengambil tissue pasca cuci tangan. Dan kena omel. Lagu. Duh, perasaan sudah kuambil lebih sedikit dari yang kuambil di bandara. Satu omelan lagi kudapat di toilet di dalam mall. Setelah dapat omelan yang ketiga kalinya, aku hanya pasrah sambil berfikir, “Lalu apa fungsi tissue di situ jika tidak boleh diambil?” Tapi show must go on.

Akhir kata, tips dariku jika bepergian ke Tiongkok terutama untuk para wanita adalah pastikan selalu tersedia tissue basah dan kering di tas. Serta, usahakan perut sudah kosong alias sudah BAB di hotel/penginapan sebelum berangkat keluar hotel/penginapan. Tips saja ini, kalau merasa sudah lihai beberes after BAB dengan tissue saja ya tidak masalah. Sejauh aku menginap di beberapa kota di Cina, toilet kamar hotel memiliki bidet dan tombol flush yang lebih memadai ketimbang toilet umum.

Aku mengunjungi Shanghai, Beijing dan Hangzhou di bulan November. Beruntung sekali di bulan itu tidak banyak rang mengunjungi tembok besar. Mungkin karena cuaca sudah mulai dingin di bulan itu dan kami mengunjungi bukan di saat libur anak sekolah.

Ulala, aku ketemu panda asli Tiongkok.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Okay, untuk yang akan berangkat ke Tiongkok, have fun and trust me, it’s amazing there!!

Previous Post Next Post

No Comments

Leave a Reply